Latar Belakang

Kurikulum modular INIS, merupakan kurikulum yang disusun untuk memudahkan Imam Nawawi Islamic School dalam mencapai visi dan misi dan tujuan pendidikan INIS. Yaitu, membentuk sistem pendidikan sebagai wasilah dakwah yang terjangkau bagi ummat.

Kurikulum INIS yang mandiri perlu dibuat karena adanya perbedaan yang pokok antara tujuan pembentukan kurikulum nasional dengan tujuan pendidikan INIS. Dimana ketika tujuanya berbeda arah, berbeda pula cara mencapainya juga berbeda.

A. Sebagai seorang muslim tujuan yang paling utama adalah :

1. Menjadikan Insan yang hanya menyembah Allah, mentauhidkan-Nya, dan menjalankan Syariat-Nya, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

2. Pendidikan sebagai sarana yang memudahkan jalan seseorang menuju surga, sesuai sabda Rasulullah n :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ

Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga… (Hadits Shahih riwayat Ahmad : V/196)

3. Pendidikan dengan Biaya yang terjangkau. Karena sebagian besar ummat pengikut muhammad adalah dari kalangan lemahnya.

B. Untuk memenuhi tujuan tersebut maka tidak ada jalan lain selain :

1. mencari keridhoan Allah dengan jalan mengikuti jejak para pendahulu Islam, yaitu generasi Sahabat pada zaman Rosulullah n yang Allah ridho terhadap mereka dan merekapun ridho kepada Allah :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًاۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar (QS. At Taubah: 100)

Dan jejak pengikut mereka, yaitu jejak para ulama dimasa terbaik dan masa keemasan Islam, tabiin dan tabii’ut tabiin. karena tidaklah akan datang zaman yang lebih baik dari zaman mereka

لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني ومن رأى من رآني ومن رأى من رأى من رآني

Kebaikan akan tetap ada selama diantara kalian ada orang yang pernah melihatku dan para sahabatku, dan orang yang pernah melihat para sahabatku (tabi’in) dan orang yang pernah melihat orang yang melihat sahabatku (tabi’ut tabi’in)” (Fathul Baari (7/7))

Dan Sabda Beliau n :

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم ، ثم الذين يلونه

Sebaik-baik manusia adalah yang ada pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka” (HR. Bukhari no.3651, Muslim no.2533)

  • Tidaklah zaman terbaik Islam adalah zaman dimana seseorang membawa dinar dan dirham untuk bersedekah namun tidak ada yang layak atau mau menerimanya.

  • Tidaklah zaman terbaik Islam ketika wilayah kerajaan Islam menguasai dua pertiga dunia,

  • Tidak pula zaman ketika bangunan berdiri megah,

  • Tidak pula ketika tingginya pengetahuan,

Tidaklah dikatakan peradaban itu maju jika didalamnya mereka masih menyekutukan Allah, masih tersebar maksiat secara merata, hukum tidak lagi milik Allah, dan hilang adab dan akhlak Islam. Karena peradaban seperti itu tidak ubahnya bagaikan kehidupan binatang ternak

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ” (QS. Al-A’raaf: 179)

Zaman terbaik adalah zaman dimana kalimat Allah yang paling tinggi, tauhid dan sunnah ditegakkan, syirik dan bid’ah ditinggalkan, syariat Islam menjadi hukum diantara manusia, iman terpancar dari wajah-wajah orang mukmin, akhlak dan adab Islam terwujud dalam kehidupan sehari hari.

2. Tidak hanya menjadikan kesuksesan dunia sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan

Pemahaman kita akan zaman terbaik adalah dasar untuk berhati hati terhadap ilmu dari non muslim, sangat salah jika kesuksesan non muslim dalam dunia mereka dijadikan bukti kesuksesan mereka dalam pendidikan dan kemudian kita jadikan dan panutan. Allah berfirman :

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Demikian pula kesuksesan sebagian orang yang mengutamakan dunia,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (At Thoha : 131)

Di dalam hadits shahih disebutkan bahwa ‘Umar bin Khattab radiallahu’anhu menemui Rasulullah n di kamar khusus (beliau sedang menyendiri), ‘Umar melihat beliau berbaring beralaskan kerikil. Di dalam rumah hanya terdapat tumpukan batang pohon dan beberapa perlengkapan yang tergantung. ‘Umar tidak kuasa menahan tangis. Lalu Rasulullah n bertanya kepadanya:

“Apa yang membuatmu menangis wahai ‘Umar?”

‘Umar menjawab, “Ya Rasulullah, Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi), mereka berdua dalam keadaan (mewah). Sedangkan engkau.. (padahal engkau) adalah pilihan Allah di antara makhluk-Nya.”

Beliau berkata:

“Apakah kamu berada dalam keraguan wahai putera al-Khaththab? Mereka itu kaum yang disegerakan berbagai kenikmatan mereka dalam kehidupan mereka di dunia.”

Rasulullah n manusia yang paling zuhud di dunia meskipun beliau mampu mendapatkannya. Jika memperoleh materi duniawi, beliau menginfakkannya sedemikian dermawan, sedemikian murah tangan kepada hamba-hamba Allah, dan beliau tidak menyimpan sedikit pun bagi diri beliau sendiri untuk hari esok. [Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 hal: 794-795]

Bisa jadi kekaguman kita akan keberhasilan dunia mereka merupakan bentuk wahn yang ditimpakan Allah kedalam hati hati kaum muslimin. Hidup itu pilihan, ada kompromi di dalamnya tidak mungkin kita mengambil semuanya.

3. Selektif dalam mengambil ilmu dari non muslim

Peringantan Rosulullah n;

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan ummat sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah n , “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari no. 7319)

Dari Abu Sa’id Al Khudri a, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Jangan sampai sejarah kembali berulang, dimana kaum muslimin berlomba lomba mengadopsi dan menterjemahkan buku buku romawi yang berujung pada kehancuran aqidah, sebagaimana telah terjadi di zaman Imam Ahmad bin Hambal.

Benar ada perkataan :

  • “Hikmah adalah barang yang hilang dari orang mukmin. Maka ambilah hikmah walaupun dari orang munafik.” (HR Tirmidzi dengan sanad lemah sebagian menisbatkan pada ali bin abi thalib)

  • Ambillah hikmah dari orang yang kamu dengar. Sungguh, ada orang yang berkata dengan hikmah padahal dia bukan ahli hikmah, sehingga hikmah yang diucapkannya itu laksana anak panah yang dilontarkan oleh seseorang yang bukan pemanah -Abdullah bin Abbas, Shifatush Shafwah I/757-

  • Muadz bin Jabal a berkata:

    اِقْبَلُوا الْحَقَّ مِنْ كُلِّ مَنْ جَاءَ بِهِ، وَإِنْ كَانَ كَافِراً – أَوْ قَالَ فَاجِراً –

    “Terimalah kebenaran dari siapa saja yang membawanya, walaupun dia adalah orang kafir -atau beliau berkata: Orang fasik-.” (Riwayat Al-Baihaqi)

  • Ibnu Taimiah v berkata, “Dan Allah memerintahkan kita untuk berlaku adil dan lurus. Karenanya, jika ada orang yahudi atau nashrani -apalagi hanya orang syiah rafidhah- yang mengucapkan kebenaran, maka kita tidak boleh meninggalkannya atau menolaknya mentah-mentah. Akan tetapi yang kita tolak hanyalah yang mengandung kebatilan, bukannya yang mengandung kebenaran.” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiah: 2/342)

  • Ibnu Al-Qayyim v berkata, “Terimalah kebenaran dari setiap orang yang mengucapkannya walaupun dia orang yang kamu benci. Dan tolaklah kebatilan dari siapa saja yang mengucapkannya walaupun dia orang yang kamu sayangi.” (Madarij As-Salikin: 3/522)

namun itu semua dengan catatan kita telah mengetahui kebenaran, sehingga dapat mengetahui mana yang hak dan mana yang bathil, bukan dalam rangka mencari kebenaran. Karena pendidikan ini bukan hanya masalah dunia tapi berkaitan dengan filosofi/ pandangan hidup yang dibentuk dengannya masyarakat Islam.

Oleh karena itu kami memulai pendidikan dengan mempelajari Islam terlebih dahulu, mempeljari metode metode pendidikan Islam, dengan tidak menutup mata akan kebenaran yang datang dari non muslim, jika kami mampu melakukan tasfiyah, maka kami gunakan, jika tidak maka kami tinggalkan dan lebih mengutamakan pendapat para salaf, dan jika kami berbeda pendapat, maka pendapat yang paling sesuai dengan para salaf adalah yang kami pakai karena lebih selamat, lebih mendekati kebenaran, dan telah teruji.

3. Penyederhanaan dan perbaikan diseluruh aspek Kurikulum agar saling menunjang satu sama lain. Sehingga kebutuhan sarana dan prasarana seperti banyak buku dapat dikurangi.

Pengajar dan guru yang telah mengerti sunnah tentu berharap dapat menerapkan sunnah dalam semua aspek pendidikan, dengan kurikulum yang mengedepankan sunnah maka kami berharap para pengajar, pengelola, pengurus, dan wali murid dapat totalitas dalam mengemban tugas pendidikan tanpa ada keraguan dan syubhat di dalamnya.

Karena sebagai pengajar yang meyakini akan kebenaran Islam, kamipun meyakini metode pendidikan terbaik sudah diajarkan dalam Islam, dan berharap agar dapat mengajarkannya kepada anak didik kami, sebagaimana doa kami di kala pagi dan sore hari :

“Ya Allah yang mengetahui yang Ghaib dan yang Nyata, Wahai Rabb yang menciptakan langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya, Aku bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau, Aku berlindung dari kejahatan diriku, kejahatan syetan, dan ajakannya untuk menyekutukan Allah dan aku berlindung dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya” (HR,Bukhari dalam Al-adab al Mufrad no. 1202)

dan Sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama muslim :

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45).