Modular Berjenjang

Membuat tahapan yang tepat berdasarkan tahapan pendidikan yang dilakukan oleh para ulama terdahulu.

Kemampuan dan keberhasilan para Ulama Islam dalam menuntut ilmu telah terbukti dan tercatat dalam tinta-tinta emas sejarah, kami ingin menyusun intisari perjalanan mereka dalam menuntut ilmu, dan bagaimana mereka dapat mencapainya, yang belum dapat dicapai oleh orang-orang setelahnya. Tahapan-tahapan ini sebagaimana dalam syarah dari Syaikh Utsaimin Rohimahullah atas hadits Nabi :

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, “Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain.” Akan tetapi katakanlah, “Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat.” Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

ketika membahas wala ta’jaz (jangan lemah) syaikh berkata termasuk kelemahan adalah berpindah-pindah buku kajian ketika belum selesai atau belum benar-benar menguasainya. Kami katakan termasuk di dalamnya mengikuti majelis ilmu/kajian. Sering kita mendengar bagaimana ulama menuntut ilmu, bagaimana mereka melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu, bagaimana Imam Nawawi belajar dalam satu hari 11 majelis, dsb. Namun terkadang kita lupa bahwa :

  1. Kita maupun anak-anak kita bukanlah Imam Nawawi dan imam-imam lainnya yang diberikan karunia oleh Allah berupa akal yang cerdas luar biasa.

  2. kalaupun kita atau anak-anak kita diberikan oleh Allah karunia tersebut, apakah para Ulama tersebut apakah imam nawawi langsung mempelajari / mendatangi 11 majelis ilmu begitu ia dilahirkan? atau setelah ia bisa berbicara dan berjalan? atau setelah ia menghafal Al Qur’an bersama orangtuanya, mengetahui dasar-dasar agama Islam, dan menguasai ilmu-ilmu Alat baik dengan seorang syaikh, atau orang tuanya?

  3. ketiga bagaimana kedaan lingkungan, dan keluarga imam-imam tersebut, adakah keluarganya mengajarkan agama, atau cuek bebek dengan apa yang anak mereka pelajari?

Oleh karena itu kami berusaha membentuk kurikulum Modular dengan mengikuti jejak para ulama dalam menuntut ilmu, membuat sistem pendidikan dan lingkungan yang mencerminkan dan mengadaptasi cara mereka dalam menuntut ilmu.

jenjang pengajaran yang sesuai dengan perkembangan siswa dibagi berdasarkan modul dan kitab yang diajarkan dengan waktu yang sesuai, mulai dari setengah semester hingga beberapa tahun, dimana setiap modul independen terhadap modul mata ajaran lain.

sehingga materi yang berjenjang akan memudahkan untuk mengevaluasi hasil akhirnya. Sedangkan kurikulum modular dibuat untuk memudahkan orang-orang yang cepat belajar, lambat, belajar, atau terlambat belajar untuk belajar sesuai keadaan dan kondisinya sendiri.

Implementasi :

  1. Membuat tujuan yang jelas dan definitif untuk kelas rendah dan kelas tinggi

  2. Membagi capaian menjadi capaian per tahun

  3. Membuat tahapan pendidikan tiap mapel yang jelas

  4. Membuat sistem sekolah berbasis moving class dan guru mapel untuk siswa kelas tinggi

  5. Siswa dapat berakselerasi sesuai dengan kemampuan minat dan bakat ditiap mapel secara independen. Misal :

    siswa yang berbakat dan memiliki minat yang tinggi di bahasa dapat menyelesaikan modul bahasa kelas 6 dan kelas lima secara bersamaan.

    Sehingga ketika di kelas 6 siswa dapat fokus pada modul yang belum ia kuasai atau meminta mapel tambahan

  6. Kenaikan (kedudukan) kelas dan Kelulusan siswa dihitung berdasarkan penyelesaian materi umum (Bahasa Indonesia dan eksak SD) sehingga ketika lulus setiap anak bisa memiliki capaian yang berbeda untuk materi agama/diniyah. Misal :

    seorang siswa dikatakan lulus jika telah menamatkan modul eksak dan bahasa 6. meskipun modul lain belum tamat. Atau sebaliknya

    jika seorang siswa sudah menamatkan modul bahasa Arab, Al Quran, dan PAI, bahkan sudah melebihi target, tetap dikatakan belum lulus hingga menamatkan modul eksak dan bahasa indonesia 6.

  7. Siswa yang kurang/lambat belajar dapat mengurangi jumlah mapel berdasarkan kesepakatan dan konsultasi bersama antara orangtua dan sekolah, atau mengikuti mapel tanpa mengikuti ujian.

  8. Sistem mulazamah dalam kelas untuk materi diniyah, sehingga ustadz/guru memiliki kewenangan penuh dalam penilaian materi diniyah, dan terdapat ijazah khusus dari setiap ustadz.