Islam

Karakter Islam pada asalnya sudah mencakup keseluruhan karakter yang ada, karena Islam mencakup segala hal dan segala kebaikan. Sebagaimana Firman-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

dan Firman-Nya :

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al-Qur-an), (sebagai kalimat) yang benar dan adil …” [Al-An’aam: 115]

Dari Salman al-Farisi a, beliau ditanya, “Nabi kalian telah mengajari kalian segala hal hingga masalah buang air besar?” Dia menjawab:

أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِالْيَمِيْنِ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِرَجِيْعٍ، أَوْ بِعِظَمٍ.

Benar. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika kencing atau buang hajat, bersuci dengan tangan kanan, bersuci dengan kurang dari tiga buah batu, dan bersuci dengan kotoran atau tulang.” (HR Shahiih Muslim (I/223 no. 262))

Akan tetapi kami memisahkan Islam dan mengkhususkan makna Islam pada isi mata pelajaran, tujuan dan metode pendidikan, dimana setiap materi tujuan dan metode yang digunakan tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Kemudian kami menurunkan darinya karakter karakter penting pendidikan.

Islam adalah karakter pertama, karena dengan Islamlah akan tercapai kemuliaan Islam. Sebagaimana dalam riwayat Umar a:

Umar a ketika hendak memasuki Syam beliau menyeberangi sebuah sungai, maka beliau turun dari ontanya kemudian melepas sepatunya, menggantungkan dilehernya dan menuntun ontanya menyeberangi sungai, maka Abu Ubaidah bin Al Jarrah a berkata :

Wahai Amirul Mukminin, engkau melakukan hal ini turun dari untamu, melepas sepatumu dan menggantungkannya di lehermu, kemudian menuntun untamu, sesungguhnya kita akan memasuki kota, aku takut keadaanmu saat ini akan membuat penduduk kota tersebut meremehkan kita,

maka Umar a pun marah dan berkata : “Seandainya yang berkata itu bukan engkau, niscaya akan aku hukum sebagai contoh bagi ummat Muhammad, n

kemudian Umar a melanjutkan :“Sesungguhnya sebelum ini kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah muliakan dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.” Mustadrok Al-Hakim (1/207).

Lihatlah kalimat Amirul Mu’minin di atas, bagaimana ia menisbahkan kemuliaan kaum muslimin saat itu dari Allah, dan kehinaan kaum muslimin dari Allah. Maka carilah ridho Allah maka Allah akan muliakan kita. dan keridhoan itu datang dengan mentauhidkan-Nya serta menjalankan agama-Nya. tidak akan mulia dengan banyak pengikutnya, Tidak pula akan mulia dengan kebesaran, kekayaan, dan kemegahan bangunan-bangunan masjidnya atau sekolah-sekolahnya

Kaum muslimin dimana mana saat ini, entah di suriah, palestina bahkan negeri kita Indonesia, hina, lemah, dan menjadi bancakan orang kafir bagaikan buih di lautan yang terombang ambing ombak, meskipun banyak. Persis seperti sabda Rosulullah n :

Sebentar lagi akan muncul umat-umat yang berkerumun (memperebutkan) kalian seperti berkerumunnya orang-orang yang makan pada piringnya. Maka seseorang bertanya : “Apakah karena kami sedikit pada waktu itu? Rasulullah menjawab : “Bahkan jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih ombak di lautan. Dan sungguh-sungguh Allah akan mencabut rasa gentar di hati musuh-musuh kalian, kemudian Allah benar-benar akan melemparkan wahn ke dalam hati-hati kalian,” Maka seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Rasulullah menjawab : “Cinta dunia dan benci pada kematian.” (Dishohihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Ash shahihah 958).

Penyelenggaraan pendidikan harus mengikuti Islam secara kaffah, karena itu adalah jalan untuk memperoleh keridhoan Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Sehingga dalam penyelenggaraan Pendidikan di INIS pertanyaan pertama dan paling utama kami dalam setiap konten, tujuan dan metode pendidikan adalah sudahkah pendidikan ini sesuai dengan Al Quran, As Sunnah dan pemahaman generasi terbaik Islam?

  • Jika iya maka lanjutkan

  • jika tidak maka tinggalkan

  • jika ragu teliliti dan berkonsultasi dengan ahlil ilmu, dan

  • jika masih syubhat tinggalkan dan kembali ke pemahaman salaf.

Inilah prinsip kami yang utama dalam menyusun kurikulum pendidikan INIS, mengedepankan pokok-pokok ajaran Islam yang wajib diketahui setiap Muslim sebelum mengajarkan ilmu-ilmu yang lain sebagaimana telah dicontohkan Rosulullah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga akhir zaman.

Bukan seperti yang dilakukan sebagian dari ummat Islam, dengan mengedepankan metode-metode non Islam dalam pendidikan Islam karena melihat kemajuan mereka atau dengan dalih telah melakukan tasfiah terhadap metode tersebut, tanpa terlebih dahulu bertanya pada diri mereka sendiri pantas dan layakkah mereka dilihat dari sisi Ilmu, amal untuk melakukan tasfiyah? sedangkan mereka belum mencoba mencari dari Islam ini contoh-contoh yang banyak. tidakkah kita mengetahui tujuan pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan non muslim? Terutama tujuan utama pendidikan Islam membentuk generasi yang sholih yang hanya menyembah Allah saja.

A. Contoh Implementasi Kurikulum yang berdasarkan Islam:

  1. Mengedepankan Ilmu agama daripada Dunia, bukan mendahulukan dunia, bukan pula melupakan dunia

    وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

    Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(Al Qhoshos : 77)

    Pada masa-masa awal perkembangan siswa yang perlu ditanamkan adalah agama mereka, dan agama Islam adalah agama yang mudah, demikian pula mempelajari kewajiban kewajiban dalam Islam. InsyaAllah dengan metode pendidikan yang benar kewajiban kewajiban dan materi pendukung beragama bisa diselesaikan siswa selama jenjang waktu 9 tahun. Sehingga ketika mereka menginjak waktu sma bisa fokus dengan bakat dan minat mereka.

  2. Mengedepankan Iman daripada Al Quran :

    Yaitu membentuk karakter penuntut Ilmu yang beriman, hingga bergetar hati mereka jika mendengar nama Allah :

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

    Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

    az-Zajaj mengatakan, “Maksudnya, apabila disebutkan tentang kebesaran dan kekuasaan-Nya dan ancaman hukuman yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya maka hati mereka pun merasa takut.” (lihat Zaadul Masir, hal. 540)

    Imam Ibnu Katsir v menjelaskan maksud dari ungkapan ‘bergetarlah hati mereka’, kata beliau, “Yaitu mereka merasa takut kepada-Nya sehingga mereka pun melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/11])

    Hal Ini sesuai dengan metode pendidikan Nabi Muhammad n :

    قال جندب بن جنادة رضي الله عنه: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فتيان حزاورة فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانا، وأنتم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان. رواه ابن ماجه وصححه الألباني

    Jundub bin Junadah –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Kami telah bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika kami masih sangat muda. Kami mempelajari iman sebelum belajar al-Quran, kemudian barulah kami mempelajari al-Quran hingga bertambahlah keimanan kami karenanya.” (HR. Ibn Majah dan disahihkan oleh al-Albani)

    INIS mengedepankan pengajaran iman dan tauhid terutama tauhid rububiyah, agar anak anak sedari kecil sudah menyandarkan segala sesuatu kepada Allah. Kemudian Tauhid Uluhiyah sehingga anak anak meniatkan segala sesuatu untuk Allah. Kami berharap dengan pondasi iman yang kuat akan membentuk generasi yang mudah menerima kebenaran dan mengikutinya, tidak mudah putus asa atas ujian Allah, selalu diantara harap dan takut kepada Allah, tidak terbuai dengan dunia.

    Kemudian Keimanan kepada Malaikat, iman kepada Kitab, iman kepada Rosul dan sunnah nabi, imam kepada hari akhir, dan iman kepada qodho dan qodhar.

  3. Setelah Iman Kami mengedepankan Adab sebelum Ilmu, agar kami bisa membentuk generasi tholabul ilmi, yang memiliki adab adab tholabul ilmi, baik adab kepada Allah, RosulNya, Sahabat rosulNya, Kitab-Nya, orangtuanya, dan adab dan akhlak kepada sesama

    Berkata Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri v: “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”. (Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361)

    Berkatalah Abdullah bin Mubarak v : “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”. (Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446)

    Muhammad bin Sirrin v berkata : “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”. (Hilyah: 17. Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49)

    Berkata Abullah bin Mubarak: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husain v: “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit daripada hadits walaupun banyak”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

    Berkata Abu Zakariya Yaha bin Muhammad Al-Anbari v: “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. (Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

    Oleh karena itu dalam INIS kami tidak mengedepankan banyaknya hafalan Al Quran, banyaknya Hafalan Hadits, banyaknya ilmu, banyaknya bahasa yang dikuasai, jika dengan mengorbankan adab. Kami memahami bahwa siswa kami bukanlah penuntut ilmu, karena sebagian mereka belum baligh bahkan belum mumayiz, oleh karena itu secara bertahap kami akan mengarahkan mereka memiliki sifat sifat dan gaya belajar tholabul ilmi. Seperti diam dan memperhatikan (visual, aural, verbal)

    Dari Abi Sa’id Al-Khudri berkata: “Suatu ketika Rosulullah berdiri diatas mimbar dan bersabda: “Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan menimpa kepada kalian adalah kenikmatan yang Allah bukakan kepada kalian dari perbendaharaan bumi”, kemudian beliau menyebutkan perhiasan dunia satu persatu. Lalu salah seorang sahabat berdiri dan berkata: ‘Wahai Rosulullah apakah kebaikan bisa mendatangkan kejelekan?’. Maka Rosulullah diam, dan kami berkata: ‘Beliau sedang diberikan wahyu’. Dan semua manusia diam sampai seakan-akan diatas kepala mereka ada seekor burung”. (H.R Bukhori)

    Ibnul Ambari berkata: “Perkataan : ‘Manusia duduk diam seakan-akan di atas kepala mereka ada seekor burung’ ada dua makna: yang pertama: bahwasanya mereka diam tidak bergerak dan senantiasa menundukkan pandangan. Karena burung tidak hinggap kecuali di tempat yang diam….”. (Al-Jami’ Li Akhlaqir Rowi Wa Adabis Sami’:1/192/-193)

  4. Setelah itu mengutamakan hafalan al Quran sebelum hadits, dan ilmu ilmu lain.

    Karena Hafalan Al Quran menentukan posisi seseorang disurga :

    Rasulullah n bersabda:

    يقال لصاحب القرآن اقرأ وارتقِ، ورتل كما كنت ترتل في الدنيا، فإن منزلك عند آخر آية تقرؤها

    akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat) : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca(HR. Abu Daud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

    Dalam Kurikulum INIS pada awal awal pendidikan tidak ada materi hafalan melainkan Al Quran, dan doa doa sehari hari, serta bacaan sholat. hingga mereka terbiasa menghafal dan memurajah Al Quran. Setelah itu dengan keberkahan Al Quran maka kami berharap Allah mudahkan mereka menghafal ilmu ilmu yang lain dan dibiasakan.

    Hafalan Al Quran lebih didahulukan dari ilmu fiqh karena siswa sekolah dasar kelas 1 sd 3 belum jatuh taklif pada anak tersebut.

  5. Mengutamakan mempelajari pokok pokok agama Islam dibanding memperbanyak hafalan

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Manakah yang lebih afdhol, mempelajari Al Qur’an ataukah menuntut ilmu (syar’i)?”

    Jawaban beliau v, “Ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim adalah ilmu yang berisi perintah Allah dan larangan-Nya. Mempelajari ilmu semacam ini lebih didahulukan dari menghafalkan Al Qur’an yang tidak wajib. Mempelajari ilmu semacam tadi itu wajib sedangkan menghafalkan Al Qur’an ketika itu dihukumi sunnah. Dan sekali lagi, yang wajib lebih didahulukan dari ilmu yang sunnah.

    Adapun menghafal Al Qur’an, maka itu didahulukan dari ilmu lainnya baik ilmu yang bathil atau ilmu yang sedikit manfaatnya. Menghafal Qur’an juga lebih didahulukan dari mempelajari ilmu ushul (pokok) dan furu’ (cabang). Untuk waktu saat ini, lebih baik mendahulukan menghafal Al Qur’an karena Qur’an adalah ushul setiap ilmu. Berbeda dengan yang dilakukan oleh kebanyakan ahli bid’ah dari kalangan non Arab dan selainnya di mana mereka lebih menyibukkan diri dengan ilmu yang tidak manfaat semacam banyak omongan, banyak berdebat, membahas masalah khilaf (perselisihan pendapat), ilmu furu’ yang tidak urgent dikaji, masalah taklid yang tidak perlu dibahas, atau membahas hadits ghorib (yang tidak shahih dan tidak ada manfaat untuk dikaji), begitu pula dengan ilmu matematika yang tidak bisa dijadikan hujjah yang kuat. Hal ini dilakukan sampai meninggalkan menghafal Al Qur’an, padahal Al Qur’an lebih penting dari semua ilmu tersebut.

    Dan perlu sekali masalah ini didetailkan. Yang dituntut dari Al Qur’an adalah memahami maknanya dan mengamalkan isinya. Jika tujuannya menghafalnya bukanlah untuk maksud tersebut, maka tentu ia bukan seorang yang berilmu atau ulama. Wallahu subhanahu a’lam.” (Al Majmu’ Al Fatawa, 23: 54-55)

    Ketika mereka sudah jatuh taklif atau minimal mumayiz maka kami mendahulukan mengajarkan perintah dan larangan (kewajiban kewajiban seorang muslim), dibandingkan hafalan. Dan hal ini sesuai dengan hadits Rosulullah n :

    مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

    وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

    Perintahkan kepada anak-anakmu untuk shalat ketika mereka menginjak usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka ketika menginjak sepuluh tahun. Pisahkan tempat tidur mereka. (HR. Al-Hakim dan Abu Daud)

    Sehingga mulai kelas 3 anak anak mulai di ajarkan fiqh dan materi materi keislaman lain, dan mulai kelas 4 fokus pendidikan adalah di penguasaan ilmu ilmu alat, bukan lagi di hafalan Al Quran

  6. Mengutamakan memahami Al Quran dibanding memperbanyak hafalan.

    Agar hasil pendidikan tidak seperti orang Yahudi sebagaimana dalam firman Allah :

    مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

    Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka (kitab suci) Taurat, kemudian mereka tiada menunaikannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar lagi tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allâh tiada memberi petunjuk bagi kaum yang zhalim [al-Jumu`ah/62:5]

    dan Sebagaimana hadits :

    Ibnu Mas’ud a berkata, “Dahulu kami -para sahabat- apabila belajar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 10 ayat, maka kami tidaklah mempelajari 10 ayat lain yang diturunkan berikutnya kecuali setelah kami pelajari apa yang terkandung di dalamnya.” Hadits ini disahihkan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi menyepakatinya (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/68])

    dan sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah v sebelumnya :

    Dan perlu sekali masalah ini didetailkan. Yang dituntut dari Al Qur’an adalah memahami maknanya dan mengamalkan isinya. Jika tujuannya menghafalnya bukanlah untuk maksud tersebut, maka tentu ia bukan seorang yang berilmu atau ulama. Wallahu subhanahu a’lam.” (Al Majmu’ Al Fatawa, 23: 54-55)

    Maka pada saat anak kelas 4 siswa dibiasakan membaca dan mengkhatamkan Al Quran beserta Artinya, agar mereka terbiasa mentadaburi al Quran, sebagai implementasi dari fiman Allah :

    أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

    Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa: 82).

    sehingga pada anak anak akan bertambah imannya, setiap membaca Al Quran, sebagiamana firman Allah disebutkan dalam surat Al Anfal : 2 yang telah lalu.

  7. Membiasakan muraja’ah daripada mengejar setoran hafalan tanpa muraja’ah

    Sebagaimana sabda Nabi n,

    إنما مَثَلُ صاحبِ القرآنِ كمثلِ الإبلِ المعَقَّلَةِ . إن عاهد عليها أمسكَها . وإن أطلقها ذهبَت

    Permisalan Shahibul Qur’an itu seperti unta yang diikat. Jika ia diikat, maka ia akan menetap. Namun jika ikatannya dilepaskan, maka ia akan pergi” (HR. Muslim 789)

    betapa banyak siswa baik di sekolah formal maupun pesantren yang hafal ketika sekolah lupa kita keluar atau bahkan hafal ketika setoran dan lupa yang sudah pernah disetor. Oleh karena itu kami fokus pada target 3 juz kemudian memperbanyak dan membiasakan murajaah. Kecuali bagi anak anak yang diberikan kelebihan kemampuan dan lingkungan terutama keluarga yang mendukung.

  8. Contoh-cotoh dalam setiap materi pelajaran harus sesuai dengan dan tidak bertentangan dengan Islam dan berusaha untuk menanamkan nilai-nilai keislaman.

B. Contoh Implementasi yang tidak bertentangan dengan Islam

  1. Pendidikan dengan satu guru dari kelas 1 sd kelas 7 (selama sekolah dasar) di Finlandia kami adopsi karena Islam juga sudah mengajarkan terlebih dahulu, dimana para Ulama berkata belajarlah pada satu ulama terlebih dahulu sehingga engkau memiliki dasar yang kuat baru belajar dari ulama-ulama yang lain. Dengan perubahan implementasi menjadi kelas 1 sd 3.

  2. Pembagian siswa berdasarkan gaya belajar : maka ini tidak bertentangan dengan Islam, karena memang Allah menjadikan manusia tidak sama sebagaimana Firman-Nya:

    وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ

    Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (Al-Ma’idah 48).

    Di dalam Kitab Tuhfatul Maudud (hal 147-148), Al Imam Ibnul Qayyim v mengatakan,

    ومما ينبغي أن يعتمد حال الصبي، وما هو مستعد له من الأعمال، ومهيأ له منها، فيعلم أنه مخلوق له، فلا يحمله على غيره ما كان مأذونا فيه شرعا.

    Perkara yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh orang tua adalah keadaan si anak, potensi apa yang dia miliki, bakat apa yang terpendam pada dirinya. Maka orang tua hendaknya mengetahui bahwa untuk bidang itulah anaknya diciptakan. Maka orang tua hendaknya tidak memalingkan si anak dari bakatnya

    Beliau v melanjutkan,

    فإنه إن حمله على غير ما هو مستعد لهلم يفلح فيه، وفاته ما هو مهيأ له،

    Apabila anak dipaksa untuk menyukai suatu bidang yang bukan bakatnya, maka dia tidak akan meraih kesuksesan di bidang itu. Luputlah darinya apa yang sebenarnya merupakan potensi dirinya.“

    فإذا رآه حسن الفهم، صحيح الإدراك، جيد الحفظ، واعياًفهذه علامات قبوله، وتهيئه للعلم؛ لينقشه في لوح قلبه ما دام خالياً، وإن رآه ميالاً للتجارة والبيع والشراء أو لأي صنعة مباحةفليمكنه منها؛ فكل ميسر لما خلق له.

    Apabila orang tua melihat bahwa anaknya bagus pemahamannya, bisa mengerti dengan baik, hafalannya pun bagus, dan cerdas, maka ini menunjukkan tanda penerimaan dan kesiapan dia untuk belajar, untuk mengukir ilmu di dalam hatinya yang masih polos.

    Namun apabila dia melihat anaknya memiliki kecenderungan kepada dunia perdagangan, jual-beli, atau pada bidang lain yang diperbolehkan oleh syariat (seperti pertanian, kedokteran, teknologi dll –pent) maka hendaknya dia beri kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan potensi itu. Setiap orang akan dimudahkan oleh Allah untuk melakukan apa yang telah ditetapkan baginya.” (selesai kutipan)

    Kami tidak menjadikan gaya belajar siswa sebagai harga mati yang dengannya memaklumi semua perbuatan mereka, namun kita bimbing secara perlahan dan bertahap agar mereka memiliki sifat sifat tholabul ilmi

  3. Pengajaran tanpa Ujian dan Ujian dengan open book

    tidak semua materi penialaian kemampuan anak dengan ujian, seperti adab, ada pula yang dinilai dengan pemahaman maka openbook, ada pula sebagai pengetahuan umum dan keimanan maka diajarkan namun tidak diujikan

C. Contoh Implementasi yang bertentangan dengan Islam

  1. Tujuan pendidikan yang didasari be your self , terserah menjadi apa saja, yang penting sesuai dengan keinginan, minat bakat, tanpa melihat norma. Hingga muncul kaum LGBT dan kaum kaum yang lain.

    Islam ada larangan dan ada perintah, dan Ummat Islam berusaha mengikuti teladan Rosulullah karena cinta akan membawa pada keteladanan. Dan kita berusaha mendidik generasi yang mencontoh dan mengikuti Rosulullah dan para Sahabatnya. Minimal menumbuhkan rasa cinta terlebih dahulu :

    يَا رَسُولَ الله، كيف تقول فِي رَجُلٍ أحبَّ قَوْمًا ولَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟

    Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai sebuah kaum namun dia tidak bertemu dengan mereka?”, maka Nabi n menjawab,

    المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

    Seseorang bersama dengan yang dicintainya” HR Al-Bukhari no 6169, 6170,

    dan hadits dari Anas bin Malik a

    قال أنس: وَنَحنُ كذلك؟ قَال: نعم , فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرْحًا شَدِيْدَا قال أنس فما فرحنا بشيء فرحنا بقول النبي صلى الله عليه وسلم أنت مع من أحببت وفي رواية: فما رأيت فرح المسلمون بعد الإسلام فرحهم بهذا) قال أنس فأنا أحب النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وأرجو أن أكون معهم بِحُبِّيْ إياهم وإن لم أعمل بمثل أعمالهم

    Dalam riwayat yang lain: Anas berkata, “Lalu kami berkata, “Apakah kami juga demikian?”, Rasulullah n berkata, “Ya” . Anas berkata, “Maka kamipun pada hari itu sangat gembira” (Dalam riwayat lain, Anas berkata, “Dan aku tidak pernah melihat kaum muslimin sangat gembira lebih daripada kegembiraan mereka pada saat itu”). Anas berkata, “Kami tidak pernah gembira karena sesuatu apapun sebagaimana kegembiraan kami karena mendengar sabda Nabi n “Engkau bersama yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan mereka”. Dijamak HR Al-Bukhari no 3688 dan Muslim 4/2032

D. Contoh Implementasi yang masih syubhat (ragu)

  1. Metode Pendidikan 3 M

    1. Tidak Marah

    2. Tidak memerintah

    3. tidak melarang

    A. Marah

    Allahl memang memerintahkan menahan amarah Allah berfirman,

    وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali Imran : 133-134]

    dan sabda Rosulullah n yang memang melarang untuk marah :

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )).

    Dari Abu Hurairah a bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi n : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Jangan marah!” laki laki itu mengulangi beberapa kali, Nabi n bersabda: “Jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

    Beliau n juga bersabda,

    مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

    Barangsiapa menahan kemarahan, padahal mampu melampiaskannya, niscaya pada hari kiamat Allah ‘Azza Wa Jalla akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, sehingga Allah memberinya hak memilih di antara bidadari surga yang dia kehendaki. [HR Abu Dawud no. 4777, Tirmidzi no. 2021, Ibnu Majah no. 4186 dihasankan oleh syaikh salim al Hilali]

    Larangan marah dalam hadits bertujuan untuk menumbuhkan akhlak yang baik.

    Namun para ulama juga berkata tujuan dari larangan ini adalah mencegah amarah menjadi alasan dalam bertidak (misal memukul karena marah, mencaci karena marah, dan berbagai tindakan lain yang muncul disebabkan kemarahan) sehingga kejelekan amarah dapat dicegah dari dirinya seolah-olah ia tidak marah. Sebagaimana isyarat dalam firman Allah :

    وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ

    Dan setelah amarah Musa mereda… [al-A’râf/7 : 154].

    dan firmanNya

    وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

    Dan apabila mereka marah segera memberi maaf. [asy-Syûrâ/42 : 37].

    dan firman-Nya Ta’ala:

    وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. [Ali ‘Imrân/3 : 134].

    Karena bagaimanapun marah adalah tabiat, siswa harus dilatih menghadapai realita bagaimana bisa mencegah guru, orangtua, teman, dan oang orang disekitarnya untuk marah kepadanya.

    Kedua karena ada marah yang terpuji yaitu marah karena Allah, karena al haq, dan untuk membela agamaNya. Khususnya ketika perkara-perkara yang Allah haramkan dilanggar.

    Contoh marah Rosulullah n dari Abu Mas’ud Al Anshari a berkata :

    جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ أَجْلِ فُلَانٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضِبَ فِي مَوْعِظَةٍ قَطُّ أَشَدَّ مِمَّا غَضِبَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

    Seorang lelaki menghadap Rasulullah n lalu berkata,“Sesungguhnya aku memperlambat shalat Shubuh disebabkan oleh Si Fulan (imam shalat) yang memanjangkan shalat dengan kami.” Maka tidaklah aku melihat Nabi n marah dalam memberikan nasihat yang lebih hebat dari kemarahan beliau pada hari itu. Lantas beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya di antara kamu itu ada orang-orang yang membuat manusia lari (dari agama)! Siapa saja di antara kamu yang mengimami orang banyak, maka hendaklah dia meringkaskan. Karena sesungguhnya di belakangnya, ada orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan orang yang memiliki keperluan.” [HR Muslim no. 466]

    Marah pada asalnya adalah tabiat manusia yang tidak tercela dan juga tidak terpuji kecuali dari dampak dan niatnya.

    B. Memerintah dan Melarang

    Dalil tentang ini sangat banyak dijumpai dalam AlQuran dan Hadits, contoh :

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

    وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (Q.S. al-Bayyinah [98]: 5)

    Dalam hadits larangan marah seperti disebut di atas, dan juga perkataan ulama seperti Imam Asy Syafi’i v mengatakan,

    لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى

    (Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.

    Anak anak harus dibiasakan akan adanya perintah dan larangan, agar bisa membedakan mana yang benar, alasannya. Pendidikan tanpa perintah dan larangan akan menghasilkan anak anak yang over convident bahkan hingga berani melawan Tuhannya.

    Namun disisi lain, untuk pendidikan anak yang belum baligh bahkan belum mumayiz tentu berbeda dengan orang dewasa. Dalil dalil yang ada ketika Rosulullah menghadapi anak kecil juga berbeda dengan menghadapi orang dewasa, misal hadits yang telah lalu perintah mengajak sholat untuk anak usia tujuh tahun berbeda dengan sepuluh tahun yang diperintahkan untuk dipukul. Namun disini Rasulullah tetap menggunakan lafadz perintah.

    Pemakluman masih bisa diberikan kepada anak anak kecil dibawah tujuh tahun yaitu seperti kisah Hasan dan Husen yang bermain ketika rosulullah sholat, demikian pula kisah Rosulullah dengan cucunya Umamah binti Abu al ash. Tp semua dalil ini menunjukkan ketika mereka masih anak kecil dibawah tujuh tahun. Maka kesimpulan yang indah adalah perkataan yang dinisbatkan kepada Ali Bin Abi Thalib :

  • Perlakukan anakmu bagai raja di tujuh tahun pertama

  • Perlakukan anakmu bagai tawanan perang di tujuh tahun kedua

  • Perlakukan anakmu bagi sahabat di tujuh tahun ketiga

jadi Walaupun dalil dalilnya tidak lengkap maka dan belum jelas maka kami memilih untuk kembali pada Al Quran dan Sunnah, yaitu ada perintah, larangan , dan marah yang pada tempatnya.

Demikian pula kasus kasus lain yang kami ragu berselisih, terutama ilmu yang berasal dari luar Islam sesuai atau tidak dengan islam. Baik metode, tujuan pendidikan, maupun konten pendidikan, akan kami tinggalkan hingga kami yakin akan kesesuainya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).