Imam Nawawi School

Program Mosque Schooling (MS) Imam Nawawi School (INIS) adalah program pendidikan dasar non formal yang didirikan oleh komunitas kajian/dakwah secara profesional.

Metode ini mengacu pada Kuttab para ulama Islam dahulu, yang kemudian kami padukan dengan pola pendidikan modern dan metode mulazamah pada pesantren dan majelis khusus para Ulama.

MENGAPA MOSQUE SCHOOLING

Sistem Pendidikan Mosque Schooling sengaja kami pilih dengan pertimbangan manfaat sebagai berikut :

A. Manfaat Secara Umum bagi Sekolah, Yayasan, Masyarakat dan Kaum Muslimin

  1. Mengikuti jejak para salafuna sholih

    “Sesungguhnya sebelum ini kita adalah kaum yang hina, kemudian Allah muliakan dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.” Mustadrok Al-Hakim (1/61-62).

    Kutab sebagai rujukan mosque schooling sudah dilakukan sejak zaman Rosulullah hingga sekarang, menghasilkan ulama-ulama besar Islam dan masa keemasan Islam.

  2. Kurikulum lebih fleksibel dari SDIT maupun MI sehingga dapat lebih mengikuti pendidikan Islam

  3. MS dapat digunakan sebagai tempat penyebaran ilmu baik ilmu agama maupun ilmu umum, seperti TPA, Bimbel dan ekskul, kajian POMG dan Umum, takhosus, dll.

  4. Kualitas lulusan lebih terjamin dibandingkan dengan Home Schooling.

    Hal ini dapat dilakukan karena MS hampir sama dengan Comunity home schooling sehingga dalam pengelolaanya dapat lebih profesional sebagaimana sekolah swasta pada ummumnya.

  5. Biaya guru lebih terjangkau

    Dengan keberadaan pusat Litbang dan kebijakan di satu yayasan sehingga tidak perlu setiap sekolah menyiapkan satu yayasan, litbang tersendiri.

  6. Jaminan Kualitas pendidikan. Dengan kemudahan pendirian MS maka akan memacu pertumbuhan jumlah MS, sehingga banyaknya sekolah tersebut (yang menerapkan kurikulum dan metode pendidikan yang sama) akan menekan margin of error karena sample yang lebih banyak dan lebih mewakili.

  7. Penyelenggaraan Mosque Schooling akan menekan biaya transportasi, biaya gedung, dan sarana prasarana pendidikan lainnya secara signifikan.

  8. Perkembangan sekolah dan dakwah lebih cepat karena berprinsip pada tolong menolong, dan dana ummat termanfaatkan lebih efisien (tidak melakukan yang sama berulang kali seperti perlunya tiap sekolah ada konsultan, pelatihan, labs dll).

  9. Mudah diadaptasi dengan kondisi masyarakat setempat. Penyelenggaraan yang diselenggarakan bersama komunitas dalam masyarakat maka MS dapat dengan mudah diadaptasi sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.

  10. Peluang bagi dakwah dengan tersedianya pusat dakwah

B. Manfaat Bagi Guru dan Asatidz

  1. Membantu dakwah para ustadz dengan memberikan pekerjaan dan mukafaah yang layak. Ustadz dan ustadzah dapat fokus pada kualitas pendidikan, baik dari sisi pengembangan ilmu dan cara mengajar, dan berdakwah pada masyarakat tanpa perlu bergantung pada sumbangan pengajian.

  2. Guru dan pengurus sekolah dapat saling berbagi pengalaman.

C. Manfaat Bagi Siswa dan Orangtua

  1. Dapat memberikan hak anak berupa kasih sayang dan perhatian orang tua. Dibandingkan pola pendidikan pesantren dan full day school MS lebih memberikan kesempatan bagi orang tua untuk bertatap muka dengan anak-anaknya. Karena bagaimanapun anak usia sekolah dasar (Usia 6- 13 tahun) masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya.

  2. Mengembalikan kewajiban pendidikan pada kedua orangtuanya karena Allah berfirman :

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

    Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka … .” (At-Tahrim: 6)

    INIS berusaha membuat hubungan timbal balik yang positif antara orang tua murid dengan sekolah, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, dengan memberikan fasilitas dan kesempatan bagi orang tua untuk turut berperan aktif dalam pendidikan.

  3. Mendekatkan jarak sekolah dengan rumah siswa. Sebagian besar sekolah terletak jauh dari domisili anak, sedangkan anak usia SD belum memiliki fisik yang cukup kuat untuk berpergian setiap hari, belum waktu yang terbuang dalam perjalanan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk beristirahat atau muraja’ah mata pelajaran.

  4. Siswa dapat bersosialisasi dan lebih mengenal masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Mereka dapat berjalan kaki atau naik sepeda ke sekolah, kemudian pulang sekolah, bermain, dan bereksplorasi bersama teman-temannya sehingga kemampuan sosial mereka akan meningkat.

  5. Memupuk ukhuwah islamiyah dan ta’awun dalam kebaikan antar orangtua murid yang tinggal di tempat yang sama dan masyarakat sekitar, dimana orang-orang yang Allah beri rizki lebih dapat menolong tetangga-tetangganya yang dekat. Dengan ini mereka mendapatkan 3 keutamaan sekaligus, beramal jariah, membantu dakwah, dan membantu tetangga

  6. Menumbuhkan sikap mengutamakan kerabat dan tetangga.

    Dengan hal tersebut maka hak-hak dapat dipenuhi sesuai dengan sunnah yaitu membantu keluarga, kerabat dan tetangga lebih didahulukan daripada orang yang jauh. Dibandingkan dengan sistem pesantren atau konsentrasi sekolah yatim dan dhuafa, anak juga dapat tetap bertemu dengan Ibunya, jangan sampai setelah kehilangan ayahnya, anak juga kehilangan fisik Ibunya karena sekolah yang jauh, hingga yang terjadi justru anak-anak yatim kurang kasih sayang, dan menjadi anak-anak bermasalah.