Adab dan Akhlak

Pendidikan Adab dan Akhlak di Imam Nawawi School

Mukadimmah

Banyak didengar akhir-akhir ini berita mengenai sikap anak yang tidak baik kepada gurunya bahkan ada anak yang membunuh gurunya, menantang duel kepala sekolahnya, dan berbagai keburukan lain tentang sikap seorang murid kepada guru yang mengajarkan kepada mereka ilmu, belum prilaku buruk anak di rumah dan lingkungan sekitarnya yang sudah jamak kita dengar.

Bandingkan dengan bagaimana para sahabat dulu menuntut ilmu kepada Rosulullah, dan adab dan akhlak mereka dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya sebagaimana dikisahkan oleh Abu Sa’id Al Khudri :

“Suatu ketika Rosulullah berdiri diatas mimbar dan bersabda:

“Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan menimpa kepada kalian adalah kenikmatan yang Allah bukakan kepada kalian dari perbendaharaan bumi”, kemudian beliau menyebutkan perhiasan dunia satu persatu.

Lalu salah seorang sahabat berdiri dan berkata: ‘Wahai Rosulullah apakah kebaikan bisa mendatangkan kejelekan?’. Maka Rosulullah diam, dan kami berkata: ‘Beliau sedang diberikan wahyu’. Dan semua manusia diam sampai seakan-akan diatas kepala mereka ada seekor burung”. (H.R Bukhori)

Apa yang dimaksud dengan seakan-akan di atas kepala mereka ada seekor burung? Seorang ulama bernama Ibnul Ambari berkata:

“… bahwasanya mereka diam tidak bergerak dan senantiasa menundukkan pandangan. Karena burung tidak hinggap kecuali di tempat yang diam….”.

(Al-Jami’ Li Akhlaqir Rowi Wa Adabis Sami’:1/192/-193)

Demikianlah adab dan akhlak seorang penuntut ilmu, yang dengannya akan nampak kebaikan Islam di masyarakat sebagai agama yang kaffah dan sempurna. Yang tidak hanya akan diakui oleh Dzat Yang di langit :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah ( Al Imran : 110)

Tapi juga makhluk di bumi, yaitu manusia baik muslim dan non muslim juga akan melihat indahnya Islam. Tidakkah kita belajar dari kisah yang disampaikan oleh Imam Malik rahimahullah tentang pandangan para rahib nasrani ketika melihat para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menaklukkan Syam, mereka berkata :

“Demi Allah, mereka sungguh lebih baik dari Hawariyyin (pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam), sebagaimana yang sampai pada kami.”

ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.” (Al Fath : 29)

Kebaikan Islam itu pasti bukan nisbi, maka ketika secara jujur makhluk di bumi melihat akhlak dan adab kita buruk maka saatnya kita bercermin, adakah yang salah dalam pengamalan kita selama ini? Jangan sampai kita merasa pengikut Rosulullah padahal Rosulullah berlepas diri dari adab dan akhlak kita, menganggap keridhoan Yang di langit, padahal itu istidraj, na’udzubillahi min dzalika.

Islam menganjurkan untuk mempelajari adab dan akhlak sebelum mempelajari ilmu. Baik adab kepada Allah, Rosul-Nya, Sahabat Rosul-Nya, Kitab-Nya, orangtuanya, dan adab dan akhlak kepada sesama :

“Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun”.

(Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri : Hilyatul-Aulia Abu Nuaim 6/361)

Berkata Abullah bin Mubarak: “Berkata kepadaku Makhlad bin Husain v :
“Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit daripada hadits walaupun banyak”.

(Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80)

Pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang mengajarkan anak adab dan akhlak terlebih dahulu, sebelum mereka fokus mempelajari ilmu agama dan umum, betapa banyak orang yang berilmu namun menjadi ulama su’u, dan betapa banyak orang yang mengajarkan al quran namun pertama kali dimasukkan ke neraka, dan betapa banyak orang yang baik  bacaannya, banyak hafalannya, namun tidak sampai bacaaan itu ke dada-dada mereka hanya sampai tenggorakannya saja. Bukankah hadits tentang khawarij menunjukkan pada kita orang-orang yang amalnya bacaannya melebihi para sahabat namun mereka adalah anjing-anjing neraka?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka (dalam riwayat lain pandai) membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya… (HR Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul suatu sekte/firqoh/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya”. (HR Muslim)

Maka tidakkah kita khawatir dan takut diri dan anak kita sebagai pemuda yang disebutkan dalam hadits tersebut padanya karena kita mendahulukan banyaknya dan baiknya bacaan anak-anak kita dibandingkan pendidikan iman dan adab Islam? naudzu billahi min dzalika.

Oleh karena itu dalam INIS kami tidak mengedepankan banyaknya hafalan Al Quran, banyaknya Hafalan Hadits, banyaknya ilmu, banyaknya bahasa asing yang dikuasai, jika untuk itu semua harus mengorbankan pendidikan iman dan adab Islam.

Kami mendidik siswa INIS untuk menjadi generasi tholabul ilmi, yaitu generasi yang memiliki adab dan akhlak tholabul ilmi

Tahapan Pendidikan Adab dan Akhlak di Imam Nawawi School

Pendidikan Umum

  • Mengurangi beban belajar siswa sehingga guru memiliki waktu
  • Mendidik dan membentuk guru-guru yang dapat menjadi teladan siswa dalam berakhlak dan beradab yang baik.

Tahap I. Pendidikan di Sekolah Komunitas Imam Nawawi

 

Tahap II. Pendidikan di Kelas 1 dan 2

Kelas 1 hingga kelas 3 dalam fase-fase pendidikan anak