Achievable

distribusi-iq

Sebaran Normal IQ siswa, bagian yang ditengah adalah yang terbanyak. img by wikipedia

Banyak kita lihat dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, baik di sekolah maupun guru memberikan target pendidikan yang terlalu tinggi. Dengan berbagai latar belakang dan sebagiannya sangat disayangkan hanya untuk menunjukkan sekolah mereka sebagai sekolah unggulan, dan bukti sekolah tersebut lebih dari sekolah lain. Bahkan pernah kami jumpai guru menjelaskan dan memberikan tugas selevel mahasiswa bagi siswanya yang masih SMP, dan dimasukkan dalam soal ulangan.

Kita lupa bahwa sebagian besar manusia diciptakan dengan kemampuan biasa atau rata rata, tidak bodo tidak juga pintar. Demikian pula siswa sebagian besar mereka berkemampuan rata-rata. Merekaadalah bagian terbesar dari masyarakat nanti.

Namun sayangnya sebagian besar guru disibukkan dengan selain mereka yaitu :

  • meladeni sisi kanan (anak yang cerdas) dengan menjawab pertanyaan pertanyaan mereka yang rumit, atau mendidik mereka agar ada anaknya yang bresptasi lomba ini dan itu, mengharumkan sekolah, menambah banyaknya pajangan piala di sekolah.

  • Meladeni sisi kiri (anak yang kurang cerdas) dengan menjelaskan kepada mereka berulang kali agar mereka paham.

  • Akhirnya yang terjadi adalah anak yang ditengah yang paling banyak dari populasi dilupakan, dibiarkan, dan merasa telah cukup. Mereka capaiannya cukup sehinga tidak perlu diperbaiki dan remedi, tidak terlalu pintar untuk mewakili dan mengharumkan sekolah

INIS membentuk kurikulum yang ditujukan pada rata rata siswa. Dimana siswa dengan IQ rata rata (110 sd 120) yang merupakan bagian terbesar pada sebaran normal dan dukungan 5 faktor pendidikan yang optimal sangat mungkin untuk mencapainya. Berbeda dengan sebagian besar kurikulum di Indonesia dimana target capaian hanya bisa dicapai secara optimal oleh anak dengan tingkat kecerdasan yang tinggi.

Dengan kata lain siswa dengan IQ average, semangat yang cukup, cukup rajin, sarana yang cukup. Disertai dengan metode pendidikan yang tepat, seharusnya mampu menguasi kurikulum atau tercapai target pendidikan dengan baik (jayid jiddan score rata-rata diatas 80).

Target yang achievable juga dapat menunjukkan bahwa Islam itu mudah. Dimana kesan selama ini bahwa sekolah Islam itu sulit dengan beban pendidikan yang tinggi bisa dihilangkan. Justru sekolah Islam seharusnya jauh lebih mudah dan menyenangkan dibandingkan sekolah umum.

Hal ini adalah implementasi bahwa agama itu mudah :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Al Baqorah : 185)

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا

Mudahkanlah setiap urusan & janganlah kamu mempersulit, berilah kabar gembira & jangan kamu membuatnya lari, [HR. Bukhari No.5659].

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”. (HR Bukhari).

Demikian pula pendidikan modern menganjurkan untuk membuat suasana yang menyenangkan dalam belajar, bukan membebani.

Implementasi :

  1. Membuat target capaian baik pertengah semester, semester, kelas, jenjang, hingga waktu sekolah berdasarkan kemampuan rata rata siswa

  2. Hanya ada 5 mapel seminggu

  3. Sistem modular

  4. Target Pendidikan yang tidak membebani siswa,

  5. tidak full day

  6. Tidak semua mapel diujikan

  7. Sistem openbook